Kamis, 03 Februari 2011

Pengaruh Faktor Spesifik Industri pada Return Saham

Terdapat faktor-faktor spesifik dari industri yang mempengaruhi return saham. Faktor spesifik industri tersebut dapat berbeda untuk berbagai perusahaan dari berbagai macam industri. Faktor spesifik industri adalah variabel yang spesifik untuk industri yang diamati. Misalnya spread bunga pinjaman dengan bunga simpanan merupakan faktor spesifik untuk industri perbankan. Harga minyak bumi merupakan faktor spesifik untuk industri yang bergerak pada eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi dan gas. Harga emas merupakan faktor spesifik untuk industri pertambangan emas.

Scholtens dan Wang (2008) meneliti harga komoditas minyak bumi sebagai faktor spesifik untuk saham industri minyak bumi. Kajian dilakukan dengan menguji sensitifitas harga minyak bumi dan premi resiko dari return perusahaan minyak dan gas yang terdaftar di Bursa Efek New York (NYSE).

Prosedur yang dipergunakan adalah two-step regression analysis dengan dua model abritrage pricing yang berbeda. Hasil kajian menunjukkan bahwa return dari saham minyak bumi secara positif terkait dengan return pasar, peningkatan harga minyak bumi dan berhubungan negatif dengan book-to-market ratio dari perusahaan.

Variabel harga minyak bumi dan rasio book-to-market memberikan pengaruh pada model yang digunakan, namun demikian tingkat signifikansinya tidak tetap. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan harga minyak bumi memberikan dampak pada ekspektasi akan return saham minyak bumi di masa depan.

Twite (2000) melakukan investigasi atas harga saham perusahaan pertambangan emas di Australia terhadap harga emas. Perusahaan yang dikaji adalah 12 perusahaan pertambangan emas yang terdaftar di Bursa Saham Australia.

Kajian dilakukan dengan menggunakan pendekatan multi factor model dengan meregresikan return saham dengan variabel penjelas return pasar dan return harga emas. Masing-masing dilakukan regresi terhadap individu variabel penjelas dengan model indeks tunggal, dan kemudian dibandingkan dengan hasil regresi dengan menggunakan model multi faktor.

Data yang digunakan adalah data bulanan dari Januari 1985 hingga Desember 1998. Penelitian menunjukkan bahwa harga saham perusahaan pertambangan emas dipengaruhi oleh harga emas. Harga saham perusahaan meningkat 0.7% untuk setiap 1% peningkatan harga emas. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan pertambangan emas dapat dijadikan representasi dari portofolio aset emas.

Butt et al. (2007) melakukan penelitian return harga saham industri perbankan di Pakistan dan melihat keterkaitannya terhadap spread pinjaman sebagai faktor spesifik industri. Penelitian dilakukan dengan menguji keterkaitan return saham dari industri perbankan di Pakistan terhadap variabel pasar dan industri yang dipilih dengan menggunakan multi-factor model.

Model yang digunakan terdiri atas empat variabel pasar dan industri, yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap return dari perusahaan perbankan, yaitu indeks KSE 100, indeks harga konsumen, suku bunga pinjaman bebas resiko dan spread pinjaman.

Kajian ini dimaksudkan untuk menjelaskan variabilitas dari return saham perbankan terhadap faktor-faktor pasar dan industri. Terdapat 15 bank yang dikaji berdasarkan ketersediaan data, profitabilitas dan kinerjanya di Indeks 100 Karachi Stock Exchange (KSE). Data harga saham dan variabel yang digunakan adalah pada periode Juli 1998 hingga Juni 2006. Model regresi multi faktor digunakan dalam analisis.

Kajian menunjukkan bahwa return dari indeks KSE 100 adalah satu-satunya variabel independen yang signifikan pada tingkat 5%, sedangkan variabel makro ekonomi dan industri tidak terbukti signifikan mempengaruhi return saham perbankan.

Kajian lainnya oleh Bae dan Duvall (1996) meneliti faktor spesifik industri jumlah pesawat yang dikirimkan setiap bulan dan jumlah pembelian pesawat oleh departemen pertahanan AS sebagai faktor yang dikaji terhadap return saham industri penerbangan di Amerika Serikat.

Penelitian ini menggunakan multi-index CAPM model terhadap lima perusahaan penerbangan militer di Amerika Serikat. Return bulanan dari perusahaan-perusahaan ini pada periode Januari 1982 hingga Desember 1991 diregresikan terhadap enam variabel pasar dan industri yaitu, indeks S&P 500, indeks harga konsumen, three-month Treasury bill yield, indeks produksi industrial, jumlah pesawat yang dihasilkan dan pengeluaran Departemen Pertahanan.

Penelitian menunjukkan bahwa return indeks S&P 500 dan pengeluaran departemen pertahanan keduanya secara positif signifikan mempengaruhi return perusahaan penerbangan, tetapi variabel lainnya tidak signifikan mempengaruhi return saham perusahaan penerbangan. Jumlah pesawat yang diproduksi berhubungan positif dengan return saham, namun demikian keterkaitan ini tidak signifikan pada kelima model return saham dari perusahaan penerbangan yang dikaji.

Prihantono (2006) meneliti adanya pengaruh dari beberapa variabel yang umumnya merupakan variabel ekonomi makro, kinerja pasar dan karakteristik industri perbankan terhadap kinerja saham perbankan di Bursa Efek Jakarta. Bagi industri perbankan, suku bunga sebagai salah satu variabel utama makroekonomi akan mempengaruhi pendapatan yang diterima, seperti Net Interest Margin.

Kajian dilakukan dengan menggunakan pemodelan regresi linear berganda. Obyek populasi dalam penelitian ini merupakan saham-saham yang telah terdaftar di BEJ sebelum tahun 2003 sehingga terdapat 21 bank yang diikutsertakan sebagai obyek penelitian ini.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari 21 saham perbankan yang diuji, maka sebanyak 13 bank tingkat pengembaliannya dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pengembalian pasar, hal ini adalah berdasarkan model regresi sederhana, adapun pada model regresi berganda yang lebih kompleks yang melibatkan variabel-variabel lain, terlihat bahwa hanya sembilan bank yang tingkat pengembaliannya dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pengembalian pasar.

Hasil penelitian tidak dapat menunjukkan signifikansi pengaruh variabel-variabel independen terhadap return saham perbankan. Hal ini memperlihatkan bahwa kondisi Bursa Efek di Indonesia (yaitu Bursa Efek Jakarta) merupakan contoh pasar yang belum efisien sehingga masih banyak variabel lain yang mempengaruhi kinerja return saham. Model yang telah dibentuk hanya signifikan pada delapan dari 21 saham yang diuji.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kekuatan variabel-variabel independen yang diuji dalam mempengaruhi return saham perbankan secara berturut-turut adalah IHSG, Inflasi, Jumlah uang beredar, Kredit, Tingkat suku bunga, dan Kurs nilai tukar. Artinya tingkat pengembalian pasar memberikan pengaruh yang terkuat dibandingkan variabel lainnya, sebaliknya Kurs nilai tukar memberikan pengaruh paling lemah.

Arianto (2010) mengkaji keterkaitan harga CPO sebagai faktor spesifik industri minyak sawit terhadap return harga saham perusahaan minyak sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Prosedur kajian dilakukan dengan analisis regresi dan analisis vector error correction model (VECM).

Penelitian dimaksudkan untuk mengkaji keterkaitan harga saham dari perusahaan berbasis industri minyak sawit dengan berbagai variabel ekonomi dan industri yang dipilih. Beta saham yang menggambarkan sensitifitas return saham dihitung terhadap return pasar dan return faktor spesifik industri. Selanjutnya model respon harga saham yang terdiri atas tiga variabel pasar, yaitu indeks pasar, suku bunga bebas resiko dan kurs mata uang, serta satu variabel spesifik industri, yaitu harga CPO dibangun untuk menggambarkan respon harga saham.

Sebagaimana ditunjukkan dalam kajian ini, harga komoditas minyak sawit berpengaruh terhadap harga saham dari perusahaan-perusahaan yang bergerak pada industri minyak sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dengan demikian para pengambil keputusan manajerial maupun investasi yang mengelola portofolio saham dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri minyak sawit perlu mencermati pergerakan harga minyak sawit. Jika harga minyak sawit naik, maka terjadi kecenderungan meningkatnya harga saham dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri minyak sawit. Demikian pula sebaliknya, jika harga minyak sawit menurun, maka harga saham perusahaan sawit juga akan menurun. Namun demikian pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh berbagai faktor makro ekonomi, seperti kondisi pasar secara umum, tingkat suku bunga dan kurs mata uang Rupiah.

DAFTAR PUSTAKA

Amenc N, Sourd VL. 2003. Modern Portfolio Theory and Performance Analysis. John Wilaey & Sons, West Sussex, England.

Arianto ME. 2010. Analisis Return Saham, Kointegrasi dan Kekuatan Pasar yang Mempengaruhi Industri Sawit Indonesia. Disertasi (tidak dipublikasikan). Program Manajemen dan Bisnis, Institut Pertanian Bogor.

Bodie Z, Kane A dan Marcus AJ. 2008. Essentials of Investment. Seventh Edition. McGraw-Hill International Edition. Singapore.

Butt BZ , Rehman KU, Ahmad A. 2007. An Empirical Analysis of Market and Industry Factors in Stock Returns of Pakistan Banking Industry. South Asian Journal of Management, 14(4), 7-19. Retrieved January 16, 2009, from ABI/INFORM Global database. (Document ID: 1477864071).

Kwon CS, Shin TS, Bacon FW. 1997. The effect of macroeconomic variables on stock market returns in developing markets. Multinational Business Review, 5(2), 63-70. Retrieved January 16, 2009, from ABI/INFORM Global database. (Document ID: 16999247).

Prihantono BP. 2006. Analisis pengaruh variable makro, return pasar, dan karakteristik industri terhadap return saham perbankan di Bursa Efek Jakarta. Tesis. Universitas Indonesia.

Scholtens B, Wang L. 2008. Oil Risk in Oil Stocks. The Energy Journal, 29(1), 89-111. Retrieved January 16, 2009, from ABI/INFORM Global database. (Document ID: 1410890021).

Twite G. 2000. Gold Prices, Exchange Rates, Gold Stocks and the Gold Premium. Australian Journal of Management, Vol. 27, No. 2 December 2002

leave a comment

Tidak ada komentar: